Sorotan Khusus: Rekam Jejak Awardee LPDP yang Ogah Anaknya WNI, Berujung Kena Cancel Berkarier di Pemerintah

photo author
Dimas Pratama, Jurnal Metropolitan
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:13 WIB
Kasus Dwi Sasetyaningtyas apakah sudah berakhir? LPDP masih menelusuri sang suami, simak di sini. (instagram/Dwi Sasetyaningtyas)
Kasus Dwi Sasetyaningtyas apakah sudah berakhir? LPDP masih menelusuri sang suami, simak di sini. (instagram/Dwi Sasetyaningtyas)

Awardee LPDP itu kemudian melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, pada program Sustainable Energy Technology dengan dukungan beasiswa LPDP dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017.

Di samping itu, Tyas dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO Sustaination.

Baca Juga: Viral Warga Mantrijeron Yogyakarta Lumpuhkan Maling Tabung Gas Melon dengan Stik Golf, Netizen: Ditungguin Sampai Ngambil Buat Bukti

Sustaination adalah sebuah platform yang mengangkat isu gaya hidup berkelanjutan melalui edukasi dan kurasi produk ramah lingkungan.

Tyas mulai merintis perusahaannya pada 2018, semasa dirinya tinggal di Belanda.

Setelah kembali ke Indonesia, Sustaination berkembang menjadi toko daring yang menyeleksi berbagai produk berkelanjutan agar lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.

Buntut dari polemik ini, Tyas telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun media sosialnya.

Akui Ucapannya Berasal dari Emosi Pribadi

Secara terpisah, Tyas mengklarifikasi terkait ucapan 'cukup saya yang WNI, anak jangan', melalui akun Threads pribadinya, pada Sabtu, 21 Februari 2026.

“Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan," ungkapnya.

Baca Juga: Terjebak Macet di Jakbar, Momen Hangat Berbagi Takjil untuk Batalkan Puasa

"Dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” sambung Tyas.

Awardee LPDP itu menjelaskan, unggahan tersebut dipicu oleh kondisi emosional pribadi.

“Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan,” ucap Tyas.

Meski begitu, Tyas mengakui kesalahannya dalam berkomunikasi di ruang publik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dimas Pratama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X