Konsep asrama yang membuat para siswa bercampur dan tinggal bersama membuat perawatan serta pengobatan pada penyakit yang diderita harus dituntaskan lebih dulu.
“Sekolah rakyat tidak ada tes, untuk masuk pokoknya syaratnya miskin dan miskin ekstrem. Syarat kesehatan ini dites karena mereka akan diasramakan, jangan sampai nanti yang sakit menular,” jelasnya.
“Pertanyaannya, bagaimana kalau ada yang sakit menular? Tetap kita ambil, kita beresin dulu. Kita tangani dulu, setelah sembuh baru kita masukkan,” paparnya.
Kondisi Ekonomi Pengaruhi Akses Kesehatan
Rico juga menyebut kondisi keluarga berada di lingkup miskin dan miskin ekstrem ini yang membuat permasalahan kesehatan pun muncul.
“Miskin ekstrem itu menurut BPS dan Bappenas, pengeluarannya dalam satu bulan itu per kapita Rp400 ribu. Artinya kalau secara prinsip dia itu nggak akan mampu memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari,” kata Rico.
“Nah itu, terbukti dari hasil tes kesehatan tadi. Ada anemia, kurang gizi, gigi karies. Ya gimana, mau buat makan aja nggak bisa, mau beli pasta gigi, kan nggak mungkin. Kira-kira begitu,” tandasnya.(*)
Artikel Terkait
Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat, Siapkan Generasi Emas 2045
Seskab Teddy Ungkap Presiden Lakukan Ratas Virtual dengan Menko dan Mensesneg, Bahas Sekolah Rakyat hingga Cuaca Ekstrem
Kemensos Siapkan Ribuan Laptop dan Seragam untuk Siswa Sekolah Rakyat, Saifullah Yusuf: Tidak Ada Kongkalikong